Blogger Template by Blogcrowds

Kebun Binatang Ragunan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Kebun Binatang Ragunan
Gajah di Kebun Binatang Ragunan

Kebun Binatang Ragunan adalah sebuah kebun binatang yang terletak di daerah Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Indonesia. Kebun binatang seluas 140 hektar ini didirikan pada tahun 1864. Di dalamnya, terdapat berbagai koleksi yang terdiri dari 295 spesies dan 4040 spesimen.

Ragunan sempat ditutup selama sekitar tiga minggu sejak 19 September 2005 karena hewan-hewan di dalamnya ada yang terinfeksi flu burung, namun dibuka kembali pada 11 Oktober.

Sejarah

Kebun Binatang Ragunan adalah kebun binatang pertama di Indonesia. Kebun binatang ini didirikan pada tahun 1864 dengan nama Planten En Dierentuin yang berarti "Tanaman dan Kebun Binatang." Terletak pada tanah seluas 10 hektar di kawasan Cikini, Jakarta Pusat yang merupakan pemberian seorang pelukis ternama Indonesia, Raden Saleh. Saat itu, Planten En Dierentuin dikelola oleh Perhimpunan Penyayang Flora dan Fauna Batavia yang tergabung dalam Culturule Vereniging Planten en Dierentuin at Batavia.[1]

Tahun 1949, nama Planten En Dierentuin diubah menjadi Kebun Binatang Cikini dan pada tahun 1969 dipindahkan ke kawasan Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada tahun 1964. Pemerintah DKI Jakarta menghibahkan lahan seluas 30 hektar yang menjadi rumah bagi kebun binatang ini. Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meresmikan Taman Margasatwa Ragunan pada 22 Juni 1966.


SUMBER


DATA TIMNAS BRASIL


BRASIL tak sekali pun absen lolos ke putaran final selama Piala Dunia telah digelar sebanyak 18 kali. Penampilan mereka pun selalu memberi warna indah di ajang terbesar di jagad ini. Mereka hadir bukan sekadar pamer keindahan sepak bolanya, tapi untuk mengejar gelar.

Brasil menjadi negara yang paling banyak mengumpulkan trofi piala dunia yaitu sebanyak lima kali. Selain itu, "Tim Samba" tercatat sebagai negara yang selalu bisa meraih gelar di benua mana pun Piala Dunia digelar. Terakhir, mereka meraihnya saat Piala Dunia digelar di Benua Asia yaitu, pada Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang.

Brasil juga mampu juara di Eropa, ketika Piala Dunia digelar di Swedia pada 1958. Sementara, tim Eropa tak pernah mampu juara di luar benuanya.

Mengingat Piala Dunia 2010 akan digelar pertama kali di Benua Afrika, yaitu di negara Afrika Selatan, Brasil akan menggapai titik kesempurnaan bila kembali menjadi kampiun untuk keenam kalinya.

Mereka akan memperpanjang catatan terbaiknya menjadi negara yang selalu bisa meraih gelar di benua mana pun Piala Dunia itu digelar. Selain itu, Brasil akan semakin meninggalkan rival terberatnya, Italia, yang saat ini telah mengoleksi empat trofi.

Brasil memang memiliki ambisi besar untuk menjadi kampiun di Piala Dunia 2010. Afrika Selatan akan menjadi galanggang pelampiasan dendam setelah Brasil disingkirkan Perancis di babak perempat final pada Piala Dunia 2006. Jika dicermati, Brasil menjadi tim yang selalu mampu bangkit dari kegagalan. Buktinya, mereka pernah gagal mempertahankan gelar juara pada Piala Dunia 1966 setelah pada Piala Dunia 1958 dan 1962, mereka menjadi kampiun. Namun, mereka kembali menjadi pemenang pada Piala Dunia 1970.

Kemudian, Brasil juga pernah gagal mempertahankan gelar juara pada Piala Dunia 1998. Mereka harus rela menyerahkan trofi Piala Dunia kepada Perancis yang selaku tuan rumah. Namun, Brasil berhasil menebusnya di Piala Dunia 2002.

Di bawah kepelatihan Carlos Dunga, Brasil tetaplah "Tim Samba" yang kaya kreativitas dan bintang. Sepak bola indah tetap mengaliri permainan mereka, meski tak sekental dulu.

Hadirnya bintnag-bintang seperti Ricardo Kaka, Alexandre Pato, Robinho, Luis Fabiano, Ronaldinho, dan sebagainya, akan menjamin keindahan sepak bola Brasil. Dan perlu diingat, mereka tak hanya memamerkan keindahan, tapi juga sengatan yang siap melumpuhkan lawan-lawannya.

Mereka menjadikan tim yang paling mematikan. Selain memainkan sepak bola indah, Kaka dkk memiliki dua kekuatan utama, yaitu bola mati dan serangan balik yang cepat. Dalam perjalanan babak kualifikasi, Brasil tampil impresif. Mereka hanya kalah dua kali dan mantap menjadi juara grup babak kualifikasi Zona CONMEBOL. (Ferril Dennys)

Statistik
Top Skor:
Luis Fabiano (9 Gol)

Daftar Pemain
Kiper:

Julio Cesar
Doni
Victor
Helton
Gomes
Renan

Defender:

Dani Alves
Naldo
Luizao
Crispin
Lucio
Marcelo
Gilberto
Kleber
Alex
Andre Santos
Rafinha
Andre Dias
Filipe
Luisao
Juan
Miranda
Juan
Maicon

Mildfieder:
Mancini
Hernanes
Gilberto Silva
Julio Cesar Baptista
Mineiro
Anderson
Diego Souza
Blumer Elano
Cordeiro
Kaka
Kleber
Felipe Melo
Fernando
Alex
Lucas
Diego

Penyerang:

Alfonso
Jo
Luis Fabiano
Pato
Ronaldinho
Robinho
Nlmar
Adriano
Vagner Love
Diego Tardelli

sumber

Pada tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto lengser keprabon sebagai akibat desakan arus reformasi yang kuat, mulai yang mengalir dari diskusi terbatas, unjuk rasa, unjuk keprihatinan, sampai istighosah dan lain sebagainya.

Peristiwa ini menandai lahirnya era baru di Indonesia, yang kemudian disebut era reformasi. Sehari setelah peristiwa bersejarah itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai kebanjiran usulan dari warga NU di seluruh pelosok tanah air. Usulan yang masuk ke PBNU sangat beragam, ada yang hanya mengusulkan agar PBNU membentuk parpol, ada yang mengusulkan nama parpol. Tercatat ada 39 nama parpol yang diusulkan. Nama terbanyak yang diusulkan adalah Nahdlatul Ummah, Kebangkitan Umat dan Kebangkitan Bangsa.

Ada juga yang mengusulkan lambang parpol. Unsur-unsur yang terbanyak diusulkan untuk lambang parpol adalah gambar bumi, bintang sembilan dan warna hijau. Ada yang mengusulkan bentuk hubungan dengan NU, ada yang mengusulkan visi dan misi parpol, AD/ART parpol, nama-nama untuk menjadi pengurus parpol, ada juga yang mengusulkan semuanya. Di antara yang usulannya paling lengkap adalah Lajnah Sebelas Rembang yang diketuai KH M Cholil Bisri dan PWNU Jawa Barat. Dalam menyikapi usulan yang masuk dari masyarakat Nahdliyin, PBNU menanggapinya secara hati-hati. Hal ini didasarkan pada adanya kenyataan bahwa hasil Muktamar NU ke-27 di Situbondo yang menetapkan bahwa secara organisatoris NU tidak terkait dengan partai politik manapun dan tidak melakukan kegiatan politik praktis. Namun demikian, sikap yang ditunjukan PBNU belum memuaskan keinginan warga NU. Banyak pihak dan kalangan NU dengan tidak sabar bahkan langsung menyatakan berdirinya parpol untuk mewadahi aspirasi politik warga NU setempat. Diantara yang sudah mendeklarasikan sebuar parpol adalah Partai Bintang Sembilan di Purwokerto dan Partai Kebangkitan Umat (Perkanu) di Cirebon.

Akhirnya, PBNU mengadakan Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU tanggal 3 Juni 1998 yang menghasilkan keputusan untuk membentuk Tim Lima yang diberi tugas untuk memenuhi aspirasi warga NU. Tim Lima diketuai oleh KH Ma'ruf Amin (Rais Suriyah/Koordinator Harian PBNU), dengan anggota, KH M Dawam Anwar (Katib Aam PBNU), Dr KH Said Aqil Siradj, M.A. (Wakil Katib Aam PBNU), HM Rozy Munir,S.E., M.Sc. (Ketua PBNU), dan Ahmad Bagdja (Sekretaris Jenderal PBNU). Untuk mengatasi hambatan organisatoris, Tim Lima itu dibekali Surat Keputusan PBNU.

Selanjutnya, untuk memperkuat posisi dan kemampuan kerja Tim Lima seiring semakin derasnya usulan warga NU untuk menginginkan partai politik, maka pada Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU tanggal 20 Juni 1998 memberi Surat Tugas kepada Tim Lima, selain itu juga dibentuk Tim Asistensi yang diketuai oleh Arifin Djunaedi (Wakil Sekjen PBNU) dengan anggota H Muhyiddin Arubusman, H.M. Fachri Thaha Ma'ruf, Lc., Drs. H Abdul Aziz, M.A., Drs. H Andi Muarli Sunrawa, H.M. Nasihin Hasan, H Lukman Saifuddin, Drs. Amin Said Husni dan Muhaimin Iskandar. Tim Asistensi bertugas membantu Tim Lima dalam mengiventarisasi dan merangkum usulan yang ingin membentuk parpol baru, dan membantu warga NU dalam melahirkan parpol baru yang dapat mewadahi aspirasi poitik warga NU.

Pada tanggal 22 Juni 1998 Tim Lima dan Tim Asistensi mengadakan rapat untuk mendefinisikan dan mengelaborasikan tugas-tugasnya. Tanggal 26 - 28 Juni 1998 Tim Lima dan Tim Asistensi mengadakan konsinyering di Villa La Citra Cipanas untuk menyusun rancangan awal pembentukan parpol. Pertemuan ini menghasilkan lima rancangan:

Pokok-pokok Pikiran NU Mengenai Reformasi Politik, Mabda' Siyasiy, Hubungan Partai Politik dengan NU, AD/ART dan Naskah Deklarasi.

SUMBER

Pada tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto lengser keprabon sebagai akibat desakan arus reformasi yang kuat, mulai yang mengalir dari diskusi terbatas, unjuk rasa, unjuk keprihatinan, sampai istighosah dan lain sebagainya.

Peristiwa ini menandai lahirnya era baru di Indonesia, yang kemudian disebut era reformasi. Sehari setelah peristiwa bersejarah itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai kebanjiran usulan dari warga NU di seluruh pelosok tanah air. Usulan yang masuk ke PBNU sangat beragam, ada yang hanya mengusulkan agar PBNU membentuk parpol, ada yang mengusulkan nama parpol. Tercatat ada 39 nama parpol yang diusulkan. Nama terbanyak yang diusulkan adalah Nahdlatul Ummah, Kebangkitan Umat dan Kebangkitan Bangsa.

Ada juga yang mengusulkan lambang parpol. Unsur-unsur yang terbanyak diusulkan untuk lambang parpol adalah gambar bumi, bintang sembilan dan warna hijau. Ada yang mengusulkan bentuk hubungan dengan NU, ada yang mengusulkan visi dan misi parpol, AD/ART parpol, nama-nama untuk menjadi pengurus parpol, ada juga yang mengusulkan semuanya. Di antara yang usulannya paling lengkap adalah Lajnah Sebelas Rembang yang diketuai KH M Cholil Bisri dan PWNU Jawa Barat. Dalam menyikapi usulan yang masuk dari masyarakat Nahdliyin, PBNU menanggapinya secara hati-hati. Hal ini didasarkan pada adanya kenyataan bahwa hasil Muktamar NU ke-27 di Situbondo yang menetapkan bahwa secara organisatoris NU tidak terkait dengan partai politik manapun dan tidak melakukan kegiatan politik praktis. Namun demikian, sikap yang ditunjukan PBNU belum memuaskan keinginan warga NU. Banyak pihak dan kalangan NU dengan tidak sabar bahkan langsung menyatakan berdirinya parpol untuk mewadahi aspirasi politik warga NU setempat. Diantara yang sudah mendeklarasikan sebuar parpol adalah Partai Bintang Sembilan di Purwokerto dan Partai Kebangkitan Umat (Perkanu) di Cirebon.

Akhirnya, PBNU mengadakan Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU tanggal 3 Juni 1998 yang menghasilkan keputusan untuk membentuk Tim Lima yang diberi tugas untuk memenuhi aspirasi warga NU. Tim Lima diketuai oleh KH Ma'ruf Amin (Rais Suriyah/Koordinator Harian PBNU), dengan anggota, KH M Dawam Anwar (Katib Aam PBNU), Dr KH Said Aqil Siradj, M.A. (Wakil Katib Aam PBNU), HM Rozy Munir,S.E., M.Sc. (Ketua PBNU), dan Ahmad Bagdja (Sekretaris Jenderal PBNU). Untuk mengatasi hambatan organisatoris, Tim Lima itu dibekali Surat Keputusan PBNU.

Selanjutnya, untuk memperkuat posisi dan kemampuan kerja Tim Lima seiring semakin derasnya usulan warga NU untuk menginginkan partai politik, maka pada Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU tanggal 20 Juni 1998 memberi Surat Tugas kepada Tim Lima, selain itu juga dibentuk Tim Asistensi yang diketuai oleh Arifin Djunaedi (Wakil Sekjen PBNU) dengan anggota H Muhyiddin Arubusman, H.M. Fachri Thaha Ma'ruf, Lc., Drs. H Abdul Aziz, M.A., Drs. H Andi Muarli Sunrawa, H.M. Nasihin Hasan, H Lukman Saifuddin, Drs. Amin Said Husni dan Muhaimin Iskandar. Tim Asistensi bertugas membantu Tim Lima dalam mengiventarisasi dan merangkum usulan yang ingin membentuk parpol baru, dan membantu warga NU dalam melahirkan parpol baru yang dapat mewadahi aspirasi poitik warga NU.

Pada tanggal 22 Juni 1998 Tim Lima dan Tim Asistensi mengadakan rapat untuk mendefinisikan dan mengelaborasikan tugas-tugasnya. Tanggal 26 - 28 Juni 1998 Tim Lima dan Tim Asistensi mengadakan konsinyering di Villa La Citra Cipanas untuk menyusun rancangan awal pembentukan parpol. Pertemuan ini menghasilkan lima rancangan:

Pokok-pokok Pikiran NU Mengenai Reformasi Politik, Mabda' Siyasiy, Hubungan Partai Politik dengan NU, AD/ART dan Naskah Deklarasi.

SUMBER


Ada tiga orang tokoh ulama yang memainkan peran sangat penting dalam proses pendirian Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) yaitu Kiai Wahab Chasbullah (Surabaya asal Jombang), Kiai Hasyim Asy’ari (Jombang) dan Kiai Cholil (Bangkalan). Mujammil Qomar, penulis buku “NU Liberal: Dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme Islam”, melukiskan peran ketiganya sebagai berikut Kiai Wahab sebagai pencetus ide, Kiai Hasyim sebagai pemegang kunci, dan Kiai Cholil sebagai penentu berdirinya.

Tentu selain dari ketiga tokoh ulama tersebut , masih ada beberapa tokoh lainnya yang turut memainkan peran penting. Sebut saja KH. Nawawie Noerhasan dari Pondok Pesantren Sidogiri. Setelah meminta restu kepada Kiai Hasyim seputar rencana pendirian Jamiyyah. Kiai Wahab oleh Kiai Hasyim diminta untuk menemui Kiai Nawawie. Atas petunjuk dari Kiai Hasyim pula, Kiai Ridhwan-yang diberi tugas oleh Kiai Hasyim untuk membuat lambang NU- juga menemui Kiai Nawawie. Tulisan ini mencoba mendiskripsikan peran Kiai Wahab, Kiai Hasyim, Kiai Cholil dan tokoh-tokoh ulama lainnya dalam proses berdirinya NU.

Keresahan Kiai Hasyim

Bermula dari keresahan batin yang melanda Kiai Hasyim. Keresahan itu muncul setelah Kiai Wahab meminta saran dan nasehatnya sehubungan dengan ide untuk mendirikan jamiyyah / organisasi bagi para ulama ahlussunnah wal jamaah. Meski memiliki jangkauan pengaruh yang sangat luas, untuk urusan yang nantinya akan melibatkan para kiai dari berbagai pondok pesantren ini, Kiai Hasyim tak mungkin untuk mengambil keputusan sendiri. Sebelum melangkah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga masih perlu untuk meminta pendapat dan masukan dari kiai-kiai sepuh lainnya.

Pada awalnya, ide pembentukan jamiyyah itu muncul dari forum diskusi Tashwirul Afkar yang didirikan oleh Kiai Wahab pada tahun 1924 di Surabaya. Forum diskusi Tashwirul Afkar yang berarti “potret pemikiran” ini dibentuk sebagai wujud kepedulian Kiai Wahab dan para kiai lainnya terhadap gejolak dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam terkait dalam bidang praktik keagamaan, pendidikan dan politik. Setelah peserta forum diskusi Tashwirul Afkar sepakat untuk membentuk jamiyyah, maka Kiai Wahab merasa perlu meminta restu kepada Kiai Hasyim yang ketika itu merupakan tokoh ulama pesantren yag sangat berpengaruh di Jawa Timur.

Setelah pertemuan dengan Kiai Wahab itulah, hati Kiai Hasyim resah. Gelagat inilah yang nampaknya “dibaca” oleh Kiai Cholil Bangkalan yang terkenal sebagai seorang ulama yang waskita (mukasyafah). Dari jauh ia mengamati dinamika dan suasana yang melanda batin Kiai Hasyim. Sebagai seorang guru, ia tidak ingin muridnya itu larut dalam keresahan hati yang berkepanjangan. Karena itulah, Kiai Cholil kemudian memanggil salah seorang santrinya, As’ad Syamsul Arifin (kemudian hari terkenal sebagai KH. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo) yang masih terhitung cucunya sendiri.

Tongkat “Musa”

“Saat ini Kiai Hasyim sedang resah. Antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya,” titah Kiai Cholil kepada As’ad. “Baik, Kiai,” jawab As’ad sambil menerima tongkat itu.

“Setelah memberikan tongkat, bacakanlah ayat-ayat berikut kepada Kiai Hasyim,” kata Kiai Cholil kepada As’ad seraya membacakan surat Thaha ayat 17-23.

Allah berfirman: ”Apakah itu yang di tangan kananmu, hai musa? Berkatalah Musa : ‘ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya’.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat”, Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar.”

Sebagai bekal perjalanan ke Jombang, Kiai Cholil memberikan dua keping uang logam kepada As’ad yang cukup untuk ongkos ke Jombang. Setelah berpamitan, As’ad segera berangkat ke Jombang untuk menemui Kiai Hasyim. Tongkat dari Kiai Cholil untuk Kiai Hasyim dipegangnya erat-erat.

Meski sudah dibekali uang, namun As’ad memilih berjalan kaki ke Jombang. Dua keeping uang logam pemberian Kiai Cholil itu ia simpan di sakunya sebagai kenagn-kenangan. Baginya, uang pemberian Kiai Cholil itu teramat berharga untuk dibelanjakan.

Sesampainya di Jombang, As’ad segera ke kediaman Kiai Hasyim. Kedatangan As’ad disambut ramah oleh Kiai Hasyim. Terlebih, As’ad merupakan utusan khusus gurunya, Kiai Cholil. Setelah bertemu dengan Kiai Hasyim, As’ad segera menyampaikan maksud kedatangannya, “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini,” kata As’ad seraya menyerahkan tongkat.

Kiai Hasyim menerima tongkat itu dengan penuh perasaan. Terbayang wajah gurunya yang arif, bijak dan penuh wibawa. Kesan-kesan indah selama menjadi santri juga terbayang dipelupuk matanya. “Apa masih ada pesan lainnya dari Kiai Cholil?” Tanya Kiai Hasyim. “ada, Kiai!” jawab As’ad. Kemudian As’ad membacakan surat Thaha ayat 17-23.

Setelah mendengar ayat tersebut dibacakan dan merenungkan kandungannya, Kiai Hasyim menangkap isyarat bahwa Kiai Cholil tak keberatan apabila ia dan Kiai Wahab beserta para kiai lainnya untuk mendirikan Jamiyyah. Sejak saat itu proses untuk mendirikan jamiyyah terus dimatangkan. Meski merasa sudah mendapat lampu hijau dari Kiai Cholil, Kiai Hasyim tak serta merta mewujudkan niatnya untuk mendirikan jamiyyah. Ia masih perlu bermusyawarah dengan para kiai lainnya, terutama dengan Kiai Nawawi Noerhasan yang menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Terlebih lagi, gurunya (Kiai Cholil Bangkalan) dahulunya pernah mengaji kitab-kitab besar kepada Kiai Noerhasan bin Noerchotim, ayahanda Kiai Nawawi Noerhasan.

Untuk itu, Kiai Hasyim meminta Kiai Wahab untuk menemui Kiai Nawawie. Setelah mendapat tugas itu, Kiai Wahab segera berangkat ke Sidogiri untuk menemui Kiai Nawawie. Setibanya di sana, Kiai Wahab segeraa menuju kediaman Kiai Nawawie. Ketika bertemu dengan Kiai Nawawie, Kiai Wahab langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Setelah mendengarkan dengan seksama penuturan Kiai Wahab yang menyampaikan rencana pendirian jamiyyah, Kiai Nawawie tidak serta merta pula langsung mendukungnya, melainkan memberikan pesan untuk berhati-hati. Kiai Nawawie berpesan agar jamiyyah yang akan berdiri itu supaya berhati-hati dalam masalah uang. “Saya setuju, asalkan tidak pakai uang. Kalau butuh uang, para anggotanya harus urunan.” Pesan Kiai Nawawi.

Proses dari sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat sampai dengan perkembangan terakhir pembentukan jamiyyah rupanya berjalan cukup lama. Tak terasa sudah setahun waktu berlalu sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat kepada Kiai Hasyim. Namun, jamiyyah yang diidam-idamkan tak kunjung lahir juga. Tongkat “Musa” yang diberikan Kiai Cholil, maskih tetap dipegang erat-erat oleh Kiai Hasyim. Tongkat itu tak kunjung dilemparkannya sehingga berwujud “sesuatu” yang nantinya bakal berguna bagi ummat Islam.

Sampai pada suatu hari, As’ad muncul lagi di kediaman Kiai Hasyim dengan membawa titipan khusus dari Kiai Cholil Bangkalan. “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tasbih ini,” kata As’ad sambil menyerahkan tasbih. “Kiai juga diminta untuk mengamalkan bacaan Ya Jabbar Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad. Entahlah, apa maksud di balik pemberian tasbih dan khasiat dari bacaan dua Asma Allah itu. Mungkin saja, tasbih yang diberikan oleh Kiai Cholil itu merupakan isyarat agar Kiai Hasyim lebih memantapkan hatinya untuk melaksanakan niatnya mendirikan jamiyyah. Sedangkan bacaan Asma Allah, bisa jadi sebagai doa agar niat mendirikan jamiyyah tidak terhalang oleh upaya orang-orang dzalim yang hendak menggagalkannya.

Qahhar dan Jabbar adalah dua Asma Allah yang memiliki arti hampir sama. Qahhar berarti Maha Memaksa (kehendaknya pasti terjadi, tidak bisa dihalangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki arti yang sama, tetapi adapula yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa (tidak bisa dihalangi/dikalahkan oleh siapapun). Dikalangan pesantren, dua Asma Allah ini biasanya dijadikan amalan untuk menjatuhkan wibawa, keberanian, dan kekuatan musuh yang bertindak sewenang-wenang. Setelah menerima tasbih dan amalan itu, tekad Kiai Hasyim untuk mendirikan jamiyyah semakin mantap. Meski demikian, sampai Kiai Cholil meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M),jamiyyah yang diidamkan masih belum berdiri. Barulah setahun kemudian, pada 16 Rajab 1344 H, “jabang bayi” yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Nahdlatul Ulama (NU).

Setelah para ulama sepakat mendirikan jamiyyah yang diberi nama NU, Kiai Hasyim meminta Kiai Ridhwan Nashir untuk membuat lambangnya. Melalui proses istikharah, Kiai Ridhwan mendapat isyarat gambar bumi dan bintang sembilan. Setelah dibuat lambangnya, Kiai Ridhwan menghadap Kiai Hasyim seraya menyerahkan lambang NU yang telah dibuatnya. “Gambar ini sudah bagus. Namun saya minta kamu sowan ke Kiai Nawawi di Sidogiri untuk meminta petunjuk lebih lanjut,” pesan Kiai Hasyim. Dengan membawa sketsa gambar lambang NU, Kiai Ridhwan menemui Kiai Nawawi di Sidogiri. “Saya oleh Kiai Hasyim diminta membuat gambar lambang NU. Setelah saya buat gambarnya, Kiai Hasyim meminta saya untuk sowan ke Kiai supaya mendapat petunjuk lebih lanjut,” papar Kiai Ridhwan seraya menyerahkan gambarnya.

Setelah memandang gambar lambang NU secara seksama, Kiai Nawawie memberikan saran konstruktif: “Saya setuju dengan gambar bumi dan sembilan bintang. Namun masih perlu ditambah tali untuk mengikatnya.” Selain itu, Kiai Nawawie jug a meminta supaya tali yang mengikat gambar bumi ikatannya dibuat longgar. “selagi tali yang mengikat bumi itu masih kuat, sampai kiamat pun NU tidak akan sirna,” papar Kiai Nawawie.

Bapak Spiritual

Selain memiliki peran yang sangat penting dalam proses pendirian NU yaitu sebgai penentu berdirinya, sebenarnya masih ada satu peran lagi, peran penting lain yang telah dimainkan oleh Kiai Cholil Bangkalan. Yaitu peran sebagai bapak spiritual bagi warga NU. Dalam tinjauan Mujammil Qomar, Kiai Cholil layak disebut sebagai bapak spiritual NU karena ulama asal Bangkalan ini sangat besar sekali andilnya dalam menumbuhkan tradisi tarekat, konsep kewalian dan haul (peringatan tahunan hari kematian wali atau ulama).

Dalam ketiga masalah itu, kalangan NU berkiblat kepada Kiai Cholil Bangkalan karena ia dianggap berhasil dalam menggabungkan kecenderungan fikih dan tarekat dlam dirinya dalam sebuah keseimbangan yang tidak meremehkan kedudukan fikih. Penggabungan dua aspek fikih dan tarekat itu pula yang secara cemerlang berhasil ia padukan dalam mendidik santri-santrinya. Selain membekali para santrinya dengan ilmu-ilmu lahir (eksoterik) yang sangat ketat –santrinya tak boleh boyong sebelum hafal 1000 bait nadzam Alfiah Ibn Malik, ia juga menggembleng para santrinya dengan ilmu-ilmu batin (esoterik).

Kecenderungan yang demikian itu bukannya tidak dimiliki oleh pendiri NU lainnya. Tokoh lainnya seperti Kiai Hasyim, memiliki otoritas yang sangat tinggi dalam bidang pengajaran kitab hadits shahih Bukhari, namun memiliki pandangan yang kritis terhadap masalah tarekat, konsep kewalian dan haul. Kiai Hasyim merupakan murid kesayangan dari Syaikh Mahfuzh at Tarmisi. Syaikh Mahfuzh adalah ulama Indonesia pertama yang mengajarkan kitab hadits Shahih Bukhari di Mekkah. Syaikh Mahfuzh diakui sebagai seorang mata rantai (isnad) yang sah dalam transmisi intelektual pengajaran kitab Shahih Bukhari.

Karena itu, Syaikh Mahfuzh berhak memberikan ijazah kepada murid-muridnya yang berhasil menguasai kitab Shahih Bukhari. Salah seorang muridnya yang mendapat ijazah mengajar Shahih Bukhari adalah Kiai Hasyim Asy’ari. Otoritas Kiai Hasyim pada pengajaran kitab hadits Shahih Bukhari ini diakui pula oleh Kiai Cholil Bangkalan. Di usia senjanya, gurunya itu sering nyantri pasaran (mengaji selama bulan puasa) kepada Kiai Hasyim. Ini merupakan isyarat pengakuan Kiai Cholil terhadap derajat keilmuan dan integritas Kiai Hasyim.

Sebagai ulama yang otoritatif dalam bidang hadits, Kiai Hasyim memiliki pandangan yang kritis terhadap perkembangan aliran-aliran tarekat yang tidak memiliki dasar ilmu hadits. Ia menyesalkan timbulnya gejala-gejala penyimpangan tarekat dan syariat di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, ia menulis kitab al Durar al Muntasyirah fi Masail al Tis’a’Asyarah yang berisi petunjuk praktis agar umat Islam berhati-hati apabila hendak memasuki dunia tarekat.

Selain kritis dalam memandang tarekat, Kiai Hasyim juga kritis dalam memandang kecenderungan kaum Muslim yang dengan mudah menyatakan kewalian seseorang tanpa ukuran yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara teologis. Terhadap masalah ini, Kiai Hasyim memberikan pernyataan tegas:

“Barangsiapa mengaku dirinya sebagai wali tetapi tanpa kesaksian mengikuti syariat Rasulullah SAW, orang tersebut adalah pendusta yang membuat perkara tentang Allah SWT.”

Lebih tegas beliau menyatakan:

“Orang yang mengaku dirinya wali Allah SWT, orang tersebut bukanlah wali yang sesungguhnya melainkan hanya wali-walian yang jelas salah sebab dia mengatakan sir al-khushusiyyah (rahasia-rahasia khusus) dan dia membuat kedustaan atas Allah Ta’ala.”

Demikian pula terhadap masalah haul. Selain Kiai Hasyim, para pendiri NU lainnya seperti Kiai Wahab dan Kiai Bisri Syansuri juga bersikap kritis terhadap konsep haul dan mereka menolak untuk di-haul-i (Qomar, 2002). Akan tetapi di kalangan NU sendiri, acara haul telah menjadi tradisi yang tetap dipertahankan sampai sekarang. Para wali atau kiai yang meninggal dunia, setiap tahunnya oleh warga nahdliyih akan di-haul-i dengan serangkaian kegiatan seperti ziarah kubur, tahlil dan ceramah agama untuk mengenang perjuangan mereka agar dapat dijadikan teladan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Mengapa masalah tarekat, konsep kewalian dan haul yang mendapat kritikan pedas dari Kiai Hasyim tersebut, justru ditradisikan di kalangan NU? Apakah warga NU sudah tidak lagi mengindahkan peringatan Kiai Hasyim? Untuk memastikan jawabannya, menurut Mujammil Qomar, agak sulit, mengingat NU bisa berkembang pesat juga karena usaha dan pengaruh Kiai Hasyim.

Wallahu a’lam.

sumber



Kyai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah.

Guru bangsa, reformis, cendekiawan, pemikir, dan pemimpin politik ini menggantikan BJ Habibie sebagai Presiden RI setelah dipilih MPR hasil Pemilu 1999. Dia menjabat Presiden RI dari 20 Oktober 1999 hingga Sidang Istimewa MPR 2001.

Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil atau "Sang Penakluk", dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada anak kiai.

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara, dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya, KH. Hasyim Asyari, adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren.

Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama pada 1949. Ibunya, Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang.

Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda.

Akhir 1949, dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama. Dia belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari.

Gus Dur juga diajarkan membaca buku non Islam, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya. Pada April 1953, ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan mobil.

Pendidikannya berlanjut pada 1954 di Sekolah Menengah Pertama dan tidak naik kelas, tetapi bukan karena persoalan intelektual. Ibunya lalu mengirimnya ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan.

Pada 1957, setelah lulus SMP, dia pindah ke Magelang untuk belajar di Pesantren Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun).

Pada 1959, Gus Dur pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang dan mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai guru dan kepala madrasah. Gus Dur juga menjadi wartawan Horizon dan Majalah Budaya Jaya.

Pada 1963, Wahid menerima beasiswa dari Departemen Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, namun tidak menyelesaikannya karena kekritisan pikirannya.

Gus Dur lalu belajar di Universitas Baghdad. Meskipun awalnya lalai, Gus Dur bisa menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970.

Dia pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya, guna belajar di Universitas Leiden, tetapi kecewa karena pendidikannya di Baghdad kurang diakui di sini. Gus Dur lalu pergi ke Jerman dan Prancis sebelum kembali ke Indonesia pada 1971.

Gus Dur kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yg terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat.

LP3ES mendirikan majalah Prisma di mana Gus Dur menjadi salah satu kontributor utamanya dan sering berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa.

Saat inilah dia memprihatinkan kondisi pesantren karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan dan kemiskinan pesantren yang ia lihat.

Dia kemudian batal belajar luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren.

Abdurrahman Wahid meneruskan karirnya sebagai jurnalis, menulis untuk Tempo dan Kompas. Artikelnya diterima baik dan mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial.

Dengan popularitas itu, ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, sehingga dia harus pulang-pergi Jakarta dan Jombang.

Pada 1974, Gus Dur mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas. Satu tahun kemudian, Gus Dur menambah pekerjaannya dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam.

Pada 1977, dia bergabung di Universitas Hasyim Asyari sebagai dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam, dengan mengajar subyek tambahan seperti pedagogi, syariat Islam dan misiologi.

Ia lalu diminta berperan aktif menjalankan NU dan ditolaknya. Namun, Gus Dur akhirnya menerima setelah kakeknya, Bisri Syansuri, membujuknya. Karena mengambil pekerjaan ini, Gus Dur juga memilih pindah dari Jombang ke Jakarta.

Abdurrahman Wahid mendapat pengalaman politik pertamanya pada pemilihan umum legislatif 1982, saat berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), gabungan empat partai Islam termasuk NU.

Reformasi NU

NU membentuk Tim Tujuh (termasuk Gus Dur) untuk mengerjakan isu reformasi dan membantu menghidupkan kembali NU.

Pada 2 Mei 1982, para pejabat tinggi NU bertemu dengan Ketua NU Idham Chalid dan memintanya mengundurkan diri. Namun, pada 6 Mei 1982, Gus Dur menyebut pilihan Idham untuk mundur tidak konstitusionil. Gus Dur mengimbau Idham tidak mundur.

Pada 1983, Soeharto dipilih kembali sebagai presiden untuk masa jabatan keempat oleh MPR dan mulai mengambil langkah menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara.

Dari Juni 1983 hingga Oktober 1983, Gus Dur menjadi bagian dari kelompok yang ditugaskan untuk menyiapkan respon NU terhadap isu ini.

Gus Dur lalu menyimpulkan NU harus menerima Pancasila sebagai Ideologi Negara. Untuk lebih menghidupkan kembali NU, dia mengundurkan diri dari PPP dan partai politik agar NU fokus pada masalah sosial.

Pada Musyawarah Nasional NU 1984, Gus Dur dinominasikan sebagai ketua PBNU dan dia menerimanya dengan syarat mendapat wewenang penuh untuk memilih pengurus yang akan bekerja di bawahnya.

Terpilihnya Gus Dur dilihat positif oleh Suharto. Penerimaan Wahid terhadap Pancasila bersamaan dengan citra moderatnya menjadikannya disukai pemerintah.

Pada 1987, dia mempertahankan dukungan kepada rezim tersebut dengan mengkritik PPP dalam pemilihan umum legislatif 1987 dan memperkuat Partai Golkar.

Ia menjadi anggota MPR dari Golkar. Meskipun disukai rezim, Gus Dur acap mengkritik pemerintah, diantaranya proyek Waduk Kedung Ombo yang didanai Bank Dunia.

Ini merenggangkan hubungannya dengan pemerintah dan Suharto.

Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur fokus mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga menandingi sekolah sekular.

Gus Dur terpilih kembali untuk masa jabatan kedua Ketua PBNU pada Musyawarah Nasional 1989. Saat itu, Soeharto, yang terlibat dalam pertempuran politik dengan ABRI, berusaha menarik simpati Muslim.

Pada Desember 1990, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dibentuk untuk menarik hati intelektual muslim di bawah dukungan Soeharto dan diketuai BJ Habibie.

Pada 1991, beberapa anggota ICMI meminta Gus Dur bergabung, tapi ditolaknya karena dianggap sektarian dan hanya membuat Soeharto kian kuat.

Bahkan pada 1991, Gus Dur melawan ICMI dengan membentuk Forum Demokrasi, organisasi terdiri dari 45 intelektual dari berbagai komunitas religius dan sosial.

Pada Maret 1992, Gus Dur berencana mengadakan Musyawarah Besar untuk merayakan ulang tahun NU ke-66 dan merencanakan acara itu dihadiri paling sedikit satu juta anggota NU.

Soeharto menghalangi acara tersebut dengan memerintahkan polisi mengusir bus berisi anggota NU begitu tiba di Jakarta.

Gus Dur mengirim surat protes kepada Soeharto menyatakan bahwa NU tidak diberi kesempatan menampilkan Islam yang terbuka, adil dan toleran.

Menjelang Musyawarah Nasional 1994, Gus Dur menominasikan diri untuk masa jabatan ketiga. Kali ini Soeharto menentangnya. Para pendukung Soeharto, seperti Habibie dan Harmoko, berkampanye melawan terpilihnya kembali Gus Dur.

Ketika musyawarah nasional diadakan, tempat pemilihan dijaga ketat ABRI, selain usaha menyuap anggota NU untuk tidak memilihnya. Namun, Gus Dur tetap terpilih sebagai ketua NU priode berikutnya.

Selama masa ini, Gus Dur memulai aliansi politik dengan Megawati Soekarnoputri dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Megawati yang popularitasnya tinggi berencana tetap menekan Soeharto.

Gus Dur menasehati Megawati untuk berhati-hati, tapi Megawati mengacuhkannya sampai dia harus membayar mahal ketika pada Juli 1996 markasnya diambilalih pendukung Ketua PDI dukungan pemerintah, Soerjadi.

Pada November 1996, Gus Dur dan Soeharto bertemu pertama kalinya sejak pemilihan kembali Gus Dur sebagai ketua NU.

Desember tahun itu juga dia bertemu dengan Amien Rais, anggota ICMI yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.

Juli 1997 merupakan awal krisis moneter dimana Soeharto mulai kehilangan kendali atas situasi itu. Gus Dur didorong melakukan gerakan reformasi dengan Megawati dan Amien, namun terkena stroke pada Januari 1998.

Pada 19 Mei 1998, Gus Dur, bersama delapan pemimpin komunitas Muslim, dipanggil Soeharto yang memberikan konsep Komite Reformasi usulannya. Gus Dur dan delapan orang itu menolak bergabung dengan Komite Reformasi.

Amien, yang merupakan oposisi Soeharto paling kritis saat itu, tidak menyukai pandangan moderat Gus Dur terhadap Soeharto. Namun, Soeharto kemudian mundur pada 21 Mei 1998. Wakil Presiden Habibie menjadi presiden menggantikan Soeharto.

Salah satu dampak jatuhnya Soeharto adalah lahirnya partai politik baru, dan pada Juni 1998, komunitas NU meminta Gus Dur membentuk partai politik baru.

Baru pada Juli 1998 Gus Dur menanggapi ide itu karena mendirikan partai politik adalah satu-satunya cara untuk melawan Golkar dalam pemilihan umum. Partai itu adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Pada 7 Februari 1999, PKB resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat presidennya.

Pemilu April 1999, PKB memenangkan 12% suara dengan PDIP memenangkan 33% suara. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya 313 suara.

Semasa pemerintahannya, Gus Dur membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial serta menjadi pemimpin pertama yang memberikan Aceh referendum untuk menentukan otonomi dan bukan kemerdekaan seperti di Timor Timur.

Pada 30 Desember 1999, Gus Dur mengunjungi Jayapura dan berhasil meyakinkan pemimpin-pemimpin Papua bahwa ia mendorong penggunaan nama Papua.

Pada Maret 2000, pemerintahan Gus Dur mulai bernegosiasi dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dua bulan kemudian, pemerintah menandatangani nota kesepahaman dengan GAM.

Gus Dur juga mengusulkan agar TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966 yang melarang Marxisme-Leninisme dicabut.

Ia juga berusaha membuka hubungan diplomatik dengan Israel, sementara dia juga menjadi tokoh pertama yang mereformasi militer dan mengeluarkan militer dari ruang sosial-politik.

Muncul dua skandal pada tahun 2000, yaitu skandal Buloggate dan Bruneigate, yang kemudian menjatuhkannya.

Pada Januari 2001, Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur opsional. Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa.

Pada 23 Juli 2001, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Soekarnoputri.

Pada Pemilu April 2004, PKB memperoleh 10.6% suara dan memilih Wahid sebagai calon presiden. Namun, Gus Dur gagal melewati pemeriksaan medis dan KPU menolak memasukannya sebagai kandidat.

Gus Dur lalu mendukung Solahuddin yang merupakan pasangan Wiranto. Pada 5 Juli 2004, Wiranto dan Solahuddin kalah dalam pemilu. Di Pilpres putaran dua antara pasangan Yudhoyono-Kalla dengan Megawati-Muzadi, Gus Dur golput.

Agustus 2005, Gus Dur, dalam Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu bersama Try Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung dan Megawati mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, terutama dalam soal pencabutan subsidi BBM.

Kehidupan pribadi

Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat orang anak: Alissa Qotrunnada, Zanubba Ariffah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.

Yenny aktif berpolitik di PKB dan saat ini adalah Direktur The Wahid Institute.

Gus Dur wafat, hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkosumo, Jakarta, pukul 18.45 akibat berbagai komplikasi penyakit, diantarnya jantung dan gangguan ginjal yang dideritanya sejak lama.

Sebelum wafat dia harus menjalani cuci darah rutin. Seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta ia sempat dirawat di Surabaya usai mengadakan perjalanan di Jawa Timur.

Penghargaan

Pada 1993, Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, penghargaan cukup prestisius untuk kategori kepemimpinan sosial.

Dia ditahbiskan sebagai "Bapak Tionghoa" oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, pada 10 Maret 2004.

Pada 11 Agustus 2006, Gadis Arivia dan Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006. Gus Dur dan Gadis dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia.

Ia mendapat penghargaan dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan HAM karena dianggap sebagai salah satu tokoh yang peduli persoalan HAM.

Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas.

Dia juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple dan namanya diabadikan sebagai nama kelompok studi Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study.

Gus Dur memperoleh banyak gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dari berbagai lebaga pendidikan, yaitu:

- Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Netanya University, Israel (2003)

- Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Konkuk University, Seoul, Korea Selatan (2003)

- Doktor Kehormatan dari Sun Moon University, Seoul, Korea Selatan (2003)

- Doktor Kehormatan dari Soka Gakkai University, Tokyo, Jepang (2002)

- Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Thammasat University, Bangkok, Thailand (2000)

- Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000)

- Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Sorborne University, Paris, Perancis (2000)

- Doktor Kehormatan dari Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand (2000)

- Doktor Kehormatan dari Twente University, Belanda (2000)

- Doktor Kehormatan dari Jawaharlal Nehru University, India (2000)KH. Abdurrahman Wahid
Kyai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah.

Guru bangsa, reformis, cendekiawan, pemikir, dan pemimpin politik ini menggantikan BJ Habibie sebagai Presiden RI setelah dipilih MPR hasil Pemilu 1999. Dia menjabat Presiden RI dari 20 Oktober 1999 hingga Sidang Istimewa MPR 2001.

Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil atau "Sang Penakluk", dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada anak kiai.

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara, dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya, KH. Hasyim Asyari, adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren.

Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama pada 1949. Ibunya, Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang.

Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda.

Akhir 1949, dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama. Dia belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari.

Gus Dur juga diajarkan membaca buku non Islam, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya. Pada April 1953, ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan mobil.

Pendidikannya berlanjut pada 1954 di Sekolah Menengah Pertama dan tidak naik kelas, tetapi bukan karena persoalan intelektual. Ibunya lalu mengirimnya ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan.

Pada 1957, setelah lulus SMP, dia pindah ke Magelang untuk belajar di Pesantren Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun).

Pada 1959, Gus Dur pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang dan mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai guru dan kepala madrasah. Gus Dur juga menjadi wartawan Horizon dan Majalah Budaya Jaya.

Pada 1963, Wahid menerima beasiswa dari Departemen Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, namun tidak menyelesaikannya karena kekritisan pikirannya.

Gus Dur lalu belajar di Universitas Baghdad. Meskipun awalnya lalai, Gus Dur bisa menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970.

Dia pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya, guna belajar di Universitas Leiden, tetapi kecewa karena pendidikannya di Baghdad kurang diakui di sini. Gus Dur lalu pergi ke Jerman dan Prancis sebelum kembali ke Indonesia pada 1971.

Gus Dur kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yg terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat.

LP3ES mendirikan majalah Prisma di mana Gus Dur menjadi salah satu kontributor utamanya dan sering berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa.

Saat inilah dia memprihatinkan kondisi pesantren karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan dan kemiskinan pesantren yang ia lihat.

Dia kemudian batal belajar luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren.

Abdurrahman Wahid meneruskan karirnya sebagai jurnalis, menulis untuk Tempo dan Kompas. Artikelnya diterima baik dan mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial.

Dengan popularitas itu, ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, sehingga dia harus pulang-pergi Jakarta dan Jombang.

Pada 1974, Gus Dur mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas. Satu tahun kemudian, Gus Dur menambah pekerjaannya dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam.

Pada 1977, dia bergabung di Universitas Hasyim Asyari sebagai dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam, dengan mengajar subyek tambahan seperti pedagogi, syariat Islam dan misiologi.

Ia lalu diminta berperan aktif menjalankan NU dan ditolaknya. Namun, Gus Dur akhirnya menerima setelah kakeknya, Bisri Syansuri, membujuknya. Karena mengambil pekerjaan ini, Gus Dur juga memilih pindah dari Jombang ke Jakarta.

Abdurrahman Wahid mendapat pengalaman politik pertamanya pada pemilihan umum legislatif 1982, saat berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), gabungan empat partai Islam termasuk NU.

Reformasi NU

NU membentuk Tim Tujuh (termasuk Gus Dur) untuk mengerjakan isu reformasi dan membantu menghidupkan kembali NU.

Pada 2 Mei 1982, para pejabat tinggi NU bertemu dengan Ketua NU Idham Chalid dan memintanya mengundurkan diri. Namun, pada 6 Mei 1982, Gus Dur menyebut pilihan Idham untuk mundur tidak konstitusionil. Gus Dur mengimbau Idham tidak mundur.

Pada 1983, Soeharto dipilih kembali sebagai presiden untuk masa jabatan keempat oleh MPR dan mulai mengambil langkah menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara.

Dari Juni 1983 hingga Oktober 1983, Gus Dur menjadi bagian dari kelompok yang ditugaskan untuk menyiapkan respon NU terhadap isu ini.

Gus Dur lalu menyimpulkan NU harus menerima Pancasila sebagai Ideologi Negara. Untuk lebih menghidupkan kembali NU, dia mengundurkan diri dari PPP dan partai politik agar NU fokus pada masalah sosial.

Pada Musyawarah Nasional NU 1984, Gus Dur dinominasikan sebagai ketua PBNU dan dia menerimanya dengan syarat mendapat wewenang penuh untuk memilih pengurus yang akan bekerja di bawahnya.

Terpilihnya Gus Dur dilihat positif oleh Suharto. Penerimaan Wahid terhadap Pancasila bersamaan dengan citra moderatnya menjadikannya disukai pemerintah.

Pada 1987, dia mempertahankan dukungan kepada rezim tersebut dengan mengkritik PPP dalam pemilihan umum legislatif 1987 dan memperkuat Partai Golkar.

Ia menjadi anggota MPR dari Golkar. Meskipun disukai rezim, Gus Dur acap mengkritik pemerintah, diantaranya proyek Waduk Kedung Ombo yang didanai Bank Dunia.

Ini merenggangkan hubungannya dengan pemerintah dan Suharto.

Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur fokus mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga menandingi sekolah sekular.

Gus Dur terpilih kembali untuk masa jabatan kedua Ketua PBNU pada Musyawarah Nasional 1989. Saat itu, Soeharto, yang terlibat dalam pertempuran politik dengan ABRI, berusaha menarik simpati Muslim.

Pada Desember 1990, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dibentuk untuk menarik hati intelektual muslim di bawah dukungan Soeharto dan diketuai BJ Habibie.

Pada 1991, beberapa anggota ICMI meminta Gus Dur bergabung, tapi ditolaknya karena dianggap sektarian dan hanya membuat Soeharto kian kuat.

Bahkan pada 1991, Gus Dur melawan ICMI dengan membentuk Forum Demokrasi, organisasi terdiri dari 45 intelektual dari berbagai komunitas religius dan sosial.

Pada Maret 1992, Gus Dur berencana mengadakan Musyawarah Besar untuk merayakan ulang tahun NU ke-66 dan merencanakan acara itu dihadiri paling sedikit satu juta anggota NU.

Soeharto menghalangi acara tersebut dengan memerintahkan polisi mengusir bus berisi anggota NU begitu tiba di Jakarta.

Gus Dur mengirim surat protes kepada Soeharto menyatakan bahwa NU tidak diberi kesempatan menampilkan Islam yang terbuka, adil dan toleran.

Menjelang Musyawarah Nasional 1994, Gus Dur menominasikan diri untuk masa jabatan ketiga. Kali ini Soeharto menentangnya. Para pendukung Soeharto, seperti Habibie dan Harmoko, berkampanye melawan terpilihnya kembali Gus Dur.

Ketika musyawarah nasional diadakan, tempat pemilihan dijaga ketat ABRI, selain usaha menyuap anggota NU untuk tidak memilihnya. Namun, Gus Dur tetap terpilih sebagai ketua NU priode berikutnya.

Selama masa ini, Gus Dur memulai aliansi politik dengan Megawati Soekarnoputri dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Megawati yang popularitasnya tinggi berencana tetap menekan Soeharto.

Gus Dur menasehati Megawati untuk berhati-hati, tapi Megawati mengacuhkannya sampai dia harus membayar mahal ketika pada Juli 1996 markasnya diambilalih pendukung Ketua PDI dukungan pemerintah, Soerjadi.

Pada November 1996, Gus Dur dan Soeharto bertemu pertama kalinya sejak pemilihan kembali Gus Dur sebagai ketua NU.

Desember tahun itu juga dia bertemu dengan Amien Rais, anggota ICMI yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.

Juli 1997 merupakan awal krisis moneter dimana Soeharto mulai kehilangan kendali atas situasi itu. Gus Dur didorong melakukan gerakan reformasi dengan Megawati dan Amien, namun terkena stroke pada Januari 1998.

Pada 19 Mei 1998, Gus Dur, bersama delapan pemimpin komunitas Muslim, dipanggil Soeharto yang memberikan konsep Komite Reformasi usulannya. Gus Dur dan delapan orang itu menolak bergabung dengan Komite Reformasi.

Amien, yang merupakan oposisi Soeharto paling kritis saat itu, tidak menyukai pandangan moderat Gus Dur terhadap Soeharto. Namun, Soeharto kemudian mundur pada 21 Mei 1998. Wakil Presiden Habibie menjadi presiden menggantikan Soeharto.

Salah satu dampak jatuhnya Soeharto adalah lahirnya partai politik baru, dan pada Juni 1998, komunitas NU meminta Gus Dur membentuk partai politik baru.

Baru pada Juli 1998 Gus Dur menanggapi ide itu karena mendirikan partai politik adalah satu-satunya cara untuk melawan Golkar dalam pemilihan umum. Partai itu adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Pada 7 Februari 1999, PKB resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat presidennya.

Pemilu April 1999, PKB memenangkan 12% suara dengan PDIP memenangkan 33% suara. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya 313 suara.

Semasa pemerintahannya, Gus Dur membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial serta menjadi pemimpin pertama yang memberikan Aceh referendum untuk menentukan otonomi dan bukan kemerdekaan seperti di Timor Timur.

Pada 30 Desember 1999, Gus Dur mengunjungi Jayapura dan berhasil meyakinkan pemimpin-pemimpin Papua bahwa ia mendorong penggunaan nama Papua.

Pada Maret 2000, pemerintahan Gus Dur mulai bernegosiasi dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dua bulan kemudian, pemerintah menandatangani nota kesepahaman dengan GAM.

Gus Dur juga mengusulkan agar TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966 yang melarang Marxisme-Leninisme dicabut.

Ia juga berusaha membuka hubungan diplomatik dengan Israel, sementara dia juga menjadi tokoh pertama yang mereformasi militer dan mengeluarkan militer dari ruang sosial-politik.

Muncul dua skandal pada tahun 2000, yaitu skandal Buloggate dan Bruneigate, yang kemudian menjatuhkannya.

Pada Januari 2001, Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur opsional. Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa.

Pada 23 Juli 2001, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Soekarnoputri.

Pada Pemilu April 2004, PKB memperoleh 10.6% suara dan memilih Wahid sebagai calon presiden. Namun, Gus Dur gagal melewati pemeriksaan medis dan KPU menolak memasukannya sebagai kandidat.

Gus Dur lalu mendukung Solahuddin yang merupakan pasangan Wiranto. Pada 5 Juli 2004, Wiranto dan Solahuddin kalah dalam pemilu. Di Pilpres putaran dua antara pasangan Yudhoyono-Kalla dengan Megawati-Muzadi, Gus Dur golput.

Agustus 2005, Gus Dur, dalam Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu bersama Try Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung dan Megawati mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, terutama dalam soal pencabutan subsidi BBM.

Kehidupan pribadi

Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat orang anak: Alissa Qotrunnada, Zanubba Ariffah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.

Yenny aktif berpolitik di PKB dan saat ini adalah Direktur The Wahid Institute.

Gus Dur wafat, hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkosumo, Jakarta, pukul 18.45 akibat berbagai komplikasi penyakit, diantarnya jantung dan gangguan ginjal yang dideritanya sejak lama.

Sebelum wafat dia harus menjalani cuci darah rutin. Seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta ia sempat dirawat di Surabaya usai mengadakan perjalanan di Jawa Timur.

Penghargaan

Pada 1993, Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, penghargaan cukup prestisius untuk kategori kepemimpinan sosial.

Dia ditahbiskan sebagai "Bapak Tionghoa" oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, pada 10 Maret 2004.

Pada 11 Agustus 2006, Gadis Arivia dan Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006. Gus Dur dan Gadis dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia.

Ia mendapat penghargaan dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan HAM karena dianggap sebagai salah satu tokoh yang peduli persoalan HAM.

Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas.

Dia juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple dan namanya diabadikan sebagai nama kelompok studi Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study.

Gus Dur memperoleh banyak gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dari berbagai lebaga pendidikan, yaitu:

- Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Netanya University, Israel (2003)

- Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Konkuk University, Seoul, Korea Selatan (2003)

- Doktor Kehormatan dari Sun Moon University, Seoul, Korea Selatan (2003)

- Doktor Kehormatan dari Soka Gakkai University, Tokyo, Jepang (2002)

- Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Thammasat University, Bangkok, Thailand (2000)

- Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000)

- Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Sorborne University, Paris, Perancis (2000)

- Doktor Kehormatan dari Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand (2000)

- Doktor Kehormatan dari Twente University, Belanda (2000)

- Doktor Kehormatan dari Jawaharlal Nehru University, India (2000)

sumber




SMK Syubbanul Wathon adalah sebuah lembaga pendidikan kejuruan di lingkungan Pesantren salafiyyah A.P.I Tegalrejo Magelang yang bergerak di bidang IT (Information Technologi) dan dikelola oleh Yayasan Syubbanul Wathon. SMK berbasis pesantren yang terletak dikaki gunung merapi ini merupakan sebuah wujud kepedulian pesantren A P I Tegalrejo akan pentingnya pengembangan keilmuan yang mengedepankan akhlaqul karimah.

Keilmuan pesantren dan pengetahuan umum mutlak diperlukan untuk keberlangsungan kehidupan manusia. Pemetaan dan pemisahan antara keilmuan pesantren dan pengetahuan umum dalam kehidupan saat ini hanya akan menjadikan kebuntuan pengembangan keilmuan Islam.

Kebutuhan masyarakat saat ini adalah hadirnya lembaga formal unggulan yang mencetak teknokrat yang handal dan dapat membekali anak didik dengan nilai-nilai keislaman. Generasi muda saat ini membutuhkan beragam ilmu untuk dapat membawa kemajuan bangsa dan Agama. Ilmu umum, ilmu agama dan juga ketrampilan.

SMK ini dipimpin oleh Alumnus Universitas Al Azhar Kairo yang melanjutkan study tentang management pendidikan di Leeds University United Kingdom. Beliau adalah H. Achmad Izzuddin, Lc dengan umur yang masih relatif muda ( 30 th ). Diharapkan SMK yang masih muda ini mampu berjalan cepat, tanggap dan tentu juga sigap.

SMK Syubbanul Wathon juga menyediakan boarding school bagi siswa siswi yang mempunyai keinginan lebih mendalami keilmuan pesantren yang diambilkan dari kurikulum pesantren API tegalrejo Magelang.

Info lebih lanjut kunjungi website resmi kami disini
Contact
Nama Sekolah : SMK SYUBBANUL WATHON
Keterangan : Sekolah Menengah Atas
Alamat : Jl. K. Abdan 03 ( GOR Bumi Manunggal ) Tegalrejo, Magelang
Kota : Kab. Magelang
Propinsi : Jawa Tengah
Kode Pos : 56192
Telepon : 3149001
fax : 3149002
emai : adminweb@smksw.sch.id

sumber

song for gaza

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Posting Blog

10 Jurus Posting Blog Anda
Lompat ke Komentar

Ini postingan saya yang saya ambil dari punya mas Budi Putra di websitenya www.budiputra.com

Pernahkah Anda tiba-tiba mentok saat menyiapkan posting untuk blog Anda? Tentu pernah, kita semua pasti pernah mengalaminya. Atau, pernahkah artikel yang baru saja diposting ternyata tidak mendapatkan tanggapan sama sekali dari pembaca? Kalau pernah, itu berarti gejala yang normal.

Yang jelas, tentu kita akan terus berusaha mencari kiat-kiat bagaimana agar posting-posting kita itu sukses. Ukuran sukses itu bisa dilihat dari komentar yang masuk, incoming links, tagging maupun bookmarking.
Chris Garrett menawarkan 10 jurus ampuh dalam merancang posting-posting terbaik:

Artikel ‘How To’: Tulisan tentang how-to, kiat, tips dan tutorial mengenai topik tertentu adalah salah satu contoh yang paling rajin disambangi pembaca. Idenya bisa Anda gali dari mana saja, baik itu dari forum-forum diskusi, blogwalking ataupun dari pengalaman Anda sendiri.

Posting Berupa Daftar: Bikinlah daftar mengenai hal-hal yang ringan dan mudah dicerna. Rancanglah out-line-nya dengan baik sehingga Anda juga nyaman saat menuliskannya.

Tulis tentang Kampanye: Menulis tentang kampanye-kampanye tertentu, misalkan kampanye-kampanye global, hari peringatan, dan lain sebagainya. Biasanya posting tentang ini akan menarik perhatian komunitas yang bergelut di bidang ini.

Wawancara: Jika Anda benar-benar buntu, dan anda punya akses ke sejumlah orang tokoh atau selebritas, ajak mereka chatting, telepon dan wawancarai mereka. Beberapa orang melakukan hal itu secara natural. Kunci untuk wawancara yang baik adalah menanyakan apa yang ingin diketahui oleh pembaca blog Anda. Berikut beberapa langkah dalam menyiapkan sebuah wawancara yang hebat: (1) Lakukan riset; (2) Siapkan pertanyaan sebelumnya, jangan menanyakan hal-hal yang teringat saja; (3) Kirimkan pertanyaan Anda sebelumnya; (4) Materi wawancara adalah tentang diri orang yang akan diwawancarai, bukan tentang Anda; (5) Tanyakan pertanyaan-pertanyaan terbuka, bukan yang sekadar butuh jawaban ya/tidak; (6) Cobalah berinteraksi, jangan hanya melancarkan pertanyaan, buat percakapan yang mengalir; (7) Berterima kasihlah pada orang yang anda wawancarai untuk waktunya dan tanyakan apakah ada yang ingin dia sampaikan atau ingin dia tambahkan.

Review: Tulisan review sangat menarik sepanjang produk atau jasa yang akan Anda review itu ingin diketahui oleh orang banyak. Tulislah review dengan tepat dan bukan menulis surat penjualan. Pilih kriteria yang benar-benar bekerja.

Studi Kasus: Jika Anda dapat menulis sesuatu dari pengalaman dunia nyata — apalagi dari pengalaman Anda sendiri, studi-studi kasus akan menjadi sangat berguna. Informasi yang sama dapat dibuat dalam bentuk how to (kiat-kiat). Misalnya, Anda bisa menuliskan pengalaman Anda tentang “Bagaimana mendapatkan 100 dolar pertama dari blog”.

Hasil Riset: Riset adalah cara yang efektif dalam mendapatkan sumber penulisan. Gunakan polling terbuka dan software survei, ajukan beberapa pertanyaan yang ingin Ada ketahui jawabannya. Ketika Anda sudah memiliki beberapa tanggapan, analisa hasilnya.

Tren: Amati tren yang terjadi di niche Anda, dan pastikan Anda menulis dan mendokumentasikannya dengan baik. Jika niche blog Anda tentang software, saya kira hampir setiap baru ada peluncuran software baru yang menarik ditulis dan layak disuguhkan untuk pembaca blog Anda.

Provokatif: Jika Anda punya ide dan bahan-bahan yang memadai, artikel-artikel yang provokatif dan kontroversial terkadang cukup ampuh dalam mengundang arus kunjungan (traffic). Tapi ingat, jangan menawarkan sensasi murahan (karena tanpa ada data atau argumen yang kuat) karena itu hanya akan mengorbankan reputasi Anda.

Tanyai Pembaca: Umpan balik dari pembaca adalah sumber inspirasi yang tak habis-habisnya. Jadi tanyai mereka dan dorong mereka untuk menanggapi. Orang senang untuk berbicara tentang diri mereka, oleh karena itu berilah mereka kesempatan.
sumber

Optimalisasi Koneksi Internet

Pada kali ini ESC creation dot com akan membahas beberapa tips untuk Optimalkan koneksi sambungan internet yang intinya mempercepat browsing, chatting dan download dari jaringan internet. Silahkan mencoba tips dan trik untuk mempercepat ber internet kita. Hal ini sangat berguna bila kita menggunakan koneksi internet yang serba minim dari segi kecepatan yang lambat seperti internet menggunakan akses GPRS, dial up dan sebagainya. Tips ini juga bisa mengoptimalkan kecepatan internet kita seperti menggunakan akses Indosat IM3, Mentari, mempercepat koneksi internet Indosat IM2 yang kita gunakan di jaringan GPRS, tapi juga bisa digunakan di jaringan Telkom Speedy dan koneksi internet lainnya.

1. Pertama kita rubah sedikit configurasi Group Policy di PC kita. Masuk Menu Run >>> ketik: gpedit.msc >>> Computer Configuration >>> Administrative Templates >>> Network >>> Qos Packet Scheduler >>> Limit Resevable Bandwidth doble klik >>> atur settingnya ke enable dan isi bandwidth limit dengan 0 % klik Ok.
2. Matikan Fitur update pada Komputer anda dengan cara : Masuk Control Panel >>> Security center >>> pilih Turn Off Automatic updates
3. Hilangkan Peringatan Auto Update dengan cara : Masuk control Panel >>> Security center >>> pada bagian resource pilih change the way Security Center alerts me >>> Hilangkan Cawang pada Automatic Updates. Untuk Windows Versi SP1 : klik kanan my Computer >>> Pilih Auto Updates >>> Tandai pada Turn Off Automatic Updates . Matikan pula Menu updates pada plikasi lain yang anda gunakan.
4. Untuk Software browser saya sarankan anda menggunakan Browser Mozila Firefox. Yang menurut pengalaman saya paling cepat dan sesuai digunakan pada koneksi internet yang lambat. Sofware Mozila FireFox ini bisa anda download di http://www.mozilla.com/firefox lebih bagus lagi bila anda menggunakan Mozila Firefox versi 2.0 yang cocok bila di jaringan internet lambat.
5. Optimalkan Mozila FireFox anda dengan menambahkan Plugins atau Addons Faster Fox. Addon untuk Mozila Firefox ini bisa anda download di https://addons.mozilla.org/firefox/addon/1269 dimana Addon ini hanya bisa dipakai pada Mozila Firefox versi 2.0. Guna dari addon ini meningkatkan performa Firefox dan disesuaikan dengan jaringan internet kita. Atur Pluginsnya dengan cara masuk Menu Tools pada mozila >>> Pilih add-ons >>> Pilih Fasterfox Options >> Pilih Turbo Charged >>> Ok
6. Browsing menggunakan Mozila ini bisa kita tingkatkan lagi dengan cara menggunakan proxy dan kita terapkan pada Browser Mozila Firefox ini. Cara rubah setting proxy pada Mozila sebagai berikut : Buka menu tools >>> Options >>> Advanced >>> Network >>> Conection Settings >> tanda pada Manual Proxy Configuration >>> Http proxy >> masukan salah satu IP proxy pada daftar Proxy di bawah ini.
7. Untuk Kebutuhan Download saya sarankan anda menggunakan Sofware Internet Download Manager (IDM) silahkan anda download di http://www.internetdownloadmanager.com/
8. Bila perlu gunakan Proxy di atas pada IDM. Langkahnya sebagai berikut : Jalankan IDM klik menu options >>> Proxy >>> Cawang Use Http Proxy >>> Masukan salah satu Proxy dan port Proxy di atas >> user name dan Password kosongkan >>> Klik OK.
9. Untuk kebutuhan chatting ESC creation sarankan memakai Sofware Yahoo Mesenger versi 7 atau 8 karena lebih cepat bila digunakan pada jaringan lambat. Atau bisa gunakan alternatif Mesenger yahelite.
10. Proxy di atas juga bisa digunakan pada yahoo mesenger dengan cara buka aplikasi Yahoo Mesenger Klik menu Connection Preference >>> Tandai Use Proxy >>> cawang enable Http Proxy >>> masukan salah satu Proxy di atas >> apply dan OK.

Asrama Putra Smk Syubbanul Wathon
Adalah asrama yang didirikan untuk siswa smk syubbanul wathon. Lokasi asrama ini tidak jauh dari smk syubbanul wathon yaitu disekitar kebon salakan. Pada awalnya asrama ini berada di bawah masjid sebelah MAN Tegalrejo Magelang. Tetapi karena keadaan dan keamanan yang kurang baik maka lokasinya di pindah ke sebelah atas GOR daerah salakan. Tujuan didirikannya asrama ini adalah untuk mengoptimalkan kegiatan belajar siswa. Selain itu di asrama para siswa bisa belajar bersosial satu sama lain, bisa saling menghargai, saling menghormati ataupun bercanda tawa. Seluruh siswa belum diwajibkan untuk tinggal di asrama karena tempatnya belum memadai. Akan tetapi seluruh siswa tetap dianjurkan untuk tinggal di asrama. Dengan adanya asrama ini diharapkan agar siswa dapat belajar secara maksimal dengan bimbingan dari pengasuh asrama putra smk syubbanul wathon. Selain itu para santri juga bisa menuntut ilmu agama yang lebih banyak. Santri boleh pulang setiap 4 minggu sekali, tetapi bila sakit atau karena ada sesuatu yang mengharuskan anak itu pulang, maka diperbolehkan pulang.
Jika ada santri yang melanggar aturan tata tertib asrama, maka akan di hukumm sesuai dengan pelanggaran yang di lakukan.
Fasilitas yang disediakan di asrama yaitu:
 Kamar tidur untuk siswa
 Kamar mandi
 Listrik
 Air
Memang fasilitas di asrama ini memang belum lengkap, karena baru didirikan dan masih perlu banyak perbaikan dan perlengkapan. Dengan minimnya fasilitas di asrama ini menjadikan siswa untuk belajar tirakat(hidup susah untuk mencari ilmu) agar ilmu yang diperoleh dapat bermanfaat di dunia maupun di akhirat. Kegiatan yang ada di smk syubbanul wathon boarding school yaitu sebagai berikut:

KEGIATAN ASRAMA PUTRA SMK SYUBBANUL WATHON
PUKUL KEGIATAN
04.30-04.45 Bangun pagi
04.45-05.00 Sholat Shubuh berjamaah
05.00-05.30 Membaca Al’quran berkelompok(Tadarus)
05.30-07.00 Mandi dan makan serta persiapan sekolah lainnya
07.00-14.10 Belajar di sekolah
14.10-14.30 Pulang ke boarding dan makan
14.30-16.00 Istirahat
16.00-16.30 Persiapan sholat Ashar
16.30-17.30 Sholat Ashar dan ngaji kitab
17.30-18.00 Jalan-jalan atau bercanda tawa
18.00-18.30 Sholat Maghrib
18.30-19.00 Mujahaddah
19.00-19.30 Sholat Ishak dan dilanjutkan makan
19.30-21.30 Belajar bersama
21.30-04.30 Tidur
04.30 Bangun pagi

Jika di hari minggu maka kegiatannya adalah sebagai berikut
PUKUL KEGIATAN
04.30-04.45 Bangun pagi
04.45-05.00 Sholat Shubuh
05.00-05.30 Mandi/mencuci pakaian
05.30-07.00 Santai-santai/sarapan pagi
07.00-08.00 Kerja bakti/takyiran
08.00-08.30 Makan-makan (IEN-NAN)
08.30-09.30 Mandi(kalau yang belum mandi
09.30-12.00 Free(bebas)
12.00-13.00 Sholat Dhuhur bersama
13.00-14.00 Terserah(bebas)
14.00-17.00 Sholat Ashar
17.00-18.00 Jalan-jalan
18.00-19.00 Sholat Maghrib, mujahaddah, sholat Ishak
19.00-19.30 Makan malam
19.30-05.00 Nge-net, tidur, bermain, jalan-jalan(bebas)
05.00 Bangun pagi dan sholat Shubuh

Kerja bakti diadakan bila ada pekerjaan yang harus diselesaikan untuk kepentingan bersama seperti mengangkat genting/pasir dan lain-lain, sedangkan Takyiran adalah hukuman bagi santri yang melanggar aturan boarding putra. Takyiran dapat berupa bersih-bersih kamar mandi atau mencuci karpet atau yang lainnya.

Anda sudah tahu kan, Youtube itu apa? Youtube adalah sebuah situs besar yang menampung ribuan atau mungkin jutaan video di seluruh dunia, mulai dari film, musik, tutorial, hacking, presentasi atau mungkin video porno dan lain sebagainya dan dipastikan 97% Video yang anda cari dapat anda temukan disini, anda cukup mengetikkan judul atau nama video yang anda cari di kotak SERACH kemudian ekan enter atau klik search. Namun bagi orang awam, dipastikan tidak akan tahu bagaimana cara mendownload (mengambil) video youtube tersebut, karena memang video tersebut tidak disediakan untuk di download, namun hanya untuk dilihat secara online saja, akana tetapi bagaimana jika kita ingin memiliki video tersebut ? Saya telah menyediakan situs khusus dan gratisan untuk mendownload video youtube, caranya hanya anda tinggal memasukkan link video tersebut pada situs yang telah saya sediakan. untuk lebih jelasnya ikuti petunjuk yang saya berikan dibawah ini!

  • Masuk ke situs youtube, kemudian cari video yang anda sukai, kemudian copy link tersebut (lihat gbr yg saya tandai merah)
  • Paste Link tersebut ke situs yang telah saya buatkan ” di http://khabibkhan.110mb.com”, atau di http://khabibkhan.orgfree.com kemudian Klik “SEDOT VIDEO”
  • Setelah anda klik Sedot Video, maka sebuah link untuk Download akan muncul, langsung klik saja link tersebut untuk mendownloadnya
Selamat Mencoba, dan saya pastikan 100% berhasil, kasih komentar jika berhasil atau tidaknya, mungkin dapat saya bantu, oh ya untuk memutar video nya gunakan flv player. Silahkan Download FLV Player di Sini

SUMBER

Edison Arantes do Nascimento atau lebih dikenal sebagai Pelé (lahir 23 Oktober 1940; umur 69 tahun) adalah legenda sepak bola dunia yang berasal dari Brasil. Selama kariernya sebagai pemain, Pele berhasil membawa Brasil menjadi Juara Dunia Sepak bola sebanyak 3 kali, yaitu pada tahun 1958 di Swedia, tahun 1962 di Chili, dan tahun 1970 di Meksiko. Berkat keberhasilannya tersebut, Brasil berhak atas Piala Jules Rimet.

Dia lahir di Três Corações, Minas Gerais, Brasil.

SUMBER

Bicara soal siapa yang lebih baik, kita sering diberikan dua pilihan: The Rolling Stones vs. The Beatles, Magic Johnson vs. Michael Jordan, dan tentunya Pele vs. Diego Armando Maradona.

Saya akan memilih The Beatles dan Michael Jordan. Anda mungkin punya pendapat lain. Tapi untuk yang terakhir, sulit sekali menentukan pemenangnya.

Untuk memilih siapa di antara dua legenda tersebut yang lebih unggul, diperlukan sejumlah kriteria...

Catatan Prestasi

Pele memenangkan dua gelar Piala Dunia, dua Copa Libertadores, dua Piala Intercontinental dan beberapa titel lainnya di Brasil. Sementara FIFA menobatkannya sebagai Pemain Terbaik Abad Ke-20 sembilan tahun lalu.

Sedangkan Maradona hanya memenangkan satu titel Piala Dunia, beberapa gelar domestik di Argentina, Spanyol dan Italia, ditambah penghargaan-penghargaan seperti pemain terbaik Piala Dunia 1986, Gol Terbaik Abad Ke-20 Versi FIFA, dan Pemain Terbaik Abad Ke-20 berdasarkan pendapat pembaca.

Gelar yang disebut terakhir sangat menarik. FIFA memilih Pele, tapi rakyat mengunggulkan Maradona.

Apakah karena Pele memenangkan tiga Piala Dunia membuatnya lebih unggul dari Maradona yang hanya meraih satu gelar? Hmmm...

Sepertinya tidak adil jika kita mengatakan seorang pemain lebih unggul hanya dari koleksi trofinya. Pele masih berusia 17 tahun ketika meraih Piala Dunia 1958, tapi ia cedera dalam dua edisi berikutnya, sehingga kurang memberikan dampak terhadap tim. Di Italia 1970, Pele menjadi salah satu anggota dari tim terbaik dunia, bersama Tostao, Rivelino, Carlos Alberto, Gerson dan Jairzinho. Tanpa seorang Pele pun, Brasil sudah bisa memenangkan Piala Dunia 1970.

Di sisi lain, Maradona mengangkat tim Tango ke tangga juara di Meksiko 1986. Siapa yang dapat melupakan golnya ke gawang Inggris di perempat-final, ditambah gol indah melawan Belgia di empat besar? Saya sendiri yang menyaksikannya secara langsung di Mexico City terpaku melihat gol tersebut, seolah-olah tidak percaya seorang pemain sependek 165 cm bisa mencetak gol seperti itu.

Padahal, materi kekuatan Argentina kala itu tergolong biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa secara tim. Justru Jerman Barat, tim yang dikalahkan Argentina di partai puncak, memiliki materi pemain yang jauh lebih dahsyat. Sebut saja Karl-Heinz Rummenigge, Rudi Völler, Andreas Brehme, dan Lothar Matthäus. Mantap sekali bukan?

Pada 1986, sepakbola Amerika Latin justru dikuasai Uruguay, yang meraih Copa America tiga tahun sebelumnya. Tanpa Maradona, tim Tango tidak mungkin mengatasi perlawanan sengit Enzo Francescoli dan Uruguay di babak 16 besar.

Jumlah Gol

Tentunya Pele memiliki koleksi gol yang lebih banyak dibanding Maradona. Dari 1.363 pertandingan, Pele mencetak 1.281 gol. Wow, luar biasa! Kemampuan Pele dalam merobek gawang lawan tidak perlu diragukan lagi - 77 gol dalam 92 penampilan di timnas.

Sebaliknya, Maradona mencetak 34 gol dari 91 caps internasional, delapan di kancah Piala Dunia, dan secara total 311 gol dari 590 laga.

Dengan demikian, apakah Pele lebih unggul? Seorang penyerang atau striker akan mencetak gol ketika gol itu sangat dibutuhkan. Sebagai penentu kemenangan, Maradona sudah berapa kali melakukannya?

Sebelum pindah ke Real Madrid, Cristiano Ronaldo merupakan seorang topskor di Liga Primer Inggris. Tapi di final Liga Champions, penyerang asal Portugal itu gagal membangkitkan Manchester United. Di sebuah pertandingan besar melawan tim yang besar, seorang pemain top diharapkan mampu mencetak gol di saat yang tepat. Seorang Ronaldo gagal melakukannya di Roma Finale tahun lalu. Ia kalah telak dari Lionel Messi. Barcelona pun juara.

Baik Pele maupun Maradona berhasil melakukannya, di tingkat klub sekaligus timnas. Hanya saja, Maradona mengangkat prestasi Napoli, dari sebuah klub yang kecil menjadi klub papan atas di era 1980-an. Akhirnya Napoli meraih Scudetto untuk pertama kalinya pada 1987. Kesuksesan itu terulang tiga tahun kemudian. Bahkan mereka meraih Piala UEFA 1988/89. Sejak ditinggalkan Maradona, prestasi Napoli paling tinggi hanya sebuah gelar Coppa Italia pada musim 1986/87.

Pele sendiri tak pernah bermain di Eropa. Tapi pada dasawarsa 1960-an bersama Santos, klub terbaik dunia saat itu, Pele selalu tampil cemerlang melawan klub-klub Eropa. Bahkan di Piala Intercontinental 1962 dan 1963, Pele memimpin Santos mengalahkan Benfica dan Milan. Tercatat dari lima pertandingan melawan dua klub tersebut, Pele memborong tujuh gol.

Fair Play

Kecanduan narkoba ditambah 'kecurangan' dengan mencetak gol 'Tangan Tuhan' ke gawang Inggris pada 1986 membuat Maradona tersingkir sebagai pemain yang fair di dalam maupun luar lapangan.

Pele memang tak pernah berurusan dengan narkoba dan tak pernah terbukti melakukan kecurangan. Tapi, apakah Maradona tidak pantas dijuluki pemain terhebat hanya karena dua unsur tersebut?

Tentu saja Maradona bersalah dalam penggunaan kokain. Tapi seharusnya hal tersebut tidak selalu dikaitkan dengan dirinya sebagai seorang pemain sepakbola.

Dalam budaya Amerika Latin dan Eropa Selatan, jika Anda mampu mencetak gol dengan menipu wasit dan pemain lawan, Anda justru dipandang sebagai pemain yang lebih baik secara taktis.

Jangan lupa, Maradona tidak pernah menggunakan obat terlarang yang dapat meningkatkan performa di lapangan. Kokain justru menurunkan kemampuan bermain. Bayangkan jika Maradona bersih dari kokain. Tentunya ia menjadi pemain yang dua atau tiga kali lebih hebat.

Klip Video

Kita akan sulit menentukan siapa yang lebih hebat melalui rekaman video. Pada era 1950 hingga 1960-an, video pertandingan masih langka, terutama di Amerika Latin. Jadi, cuplikan gol-gol terbaik Pele tak mungkin terkumpul semuanya.

Maradona berada di zaman ketika sepakbola sudah menjadi bisnis jutaan dolar. Jadi, video-video Maradona akan lebih banyak ditemukan. Sementara klip video tentang Pele lebih banyak diperoleh lewat Piala Dunia.

Hal tersebut sangat disayangkan. Tapi yang jelas, konsistensi pemain dalam jangka waktu yang lama patut dipertimbangkan. Baik Pele maupun Maradona menjadi legenda karena mendominasi dunia sepakbola selama sepuluh tahun lebih, sama halnya dengan pemain-pemain di zaman modern seperti Paolo Maldini dan Zinedine Zidane.

Satu lagi yang perlu dipikirkan adalah kenyataan bahwa Pele datang sebelum Maradona. Artinya, sosok Pele menjadi idola bagi banyak pemain yang lahir sesudahnya. Ada yang mengatakan, tanpa kehadiran Pele, tidak mungkin ada Johan Cruijff, Roberto Baggio, Zidane atau Maradona sekalipun. Di zamannya, Pele memang lebih unggul di antara pemain seperti Alfredo Di Stefano dan Ferenc Puskas.

Dan Pemenangnya Adalah...

Untuk menentukan siapa yang lebih baik antara Pele dan Maradona akan selalu sulit dijawab.

Tapi untuk memudahkan Anda dalam menjawab, coba tanyakan pada diri Anda:

Jika Maradona memperkuat Brasil 1970, apakah Brasil masih bisa juara? Tapi jika Pele memperkuat Argentina 1986, apakah tim Tango bisa juara?

Menurut saya, Pele selalu berada di zona yang nyaman, baik di level klub maupun timnas. Seorang Maradona secara individu lebih berdampak terhadap timnya dan lebih teruji. Dengan alasan seperti ini, saya berkesimpulan Maradona lebih hebat ketimbang Pele.

SUMBER

PELE PERINGATKAN TIMNYA

Pele Peringatkan Tim Samba
Edwan Ruriansyah

Pele & Maradona (Goal)

VIVAnews - Legenda sepakbola Brasil, Pele memperingatkan negaranya saat bersua Italia. Pele menyebut Italia bisa menerkam Brasil.

Kedua tim akan tampil di laga terakhir Grup B Piala Konfederasi, Senin dini hari WIB, 22 Juni 2009. Kekalahan 1-0 dari Mesir di laga sebelumnya, membuat Italia harus menang jika ingin lolos ke semifinal.

“Jika dua tim pengoleksi Piala Dunia terbanyak bertemu, keseimbangan akan sangat dominan. Itu lebih penting dari penampilan terakhir kedua tim,” kata Pele kepada La Gazzetta dello Sport.

“Di London Februari lalu, Brasil lebih superior dan menang. Tapi, kemenangan 2-0 itu sudah berlalu. Kini ceritanya berbeda," lanjut Pele. “Brasil kurang dinamis bermain di laga pertama melawan Mesir. Mereka juga tak semakin baik lawan AS.”

“Saya berharap Brasil makin berkembang lawan Italia. Anda tak bisa meremehkan mereka hanya karena kalah dari Mesir. Penyelamatan kiper Mesir menggagalkan Italia menyamakan kedudukan," kata Pele lagi.

Menurut Pele, Italia tahu cara keluar dari lubang jarum. Pengaruh Pelatih Marcello Lippi dianggap sangat kuat untuk mengangkat penampilan Italia.

SUMBER

Jacksen: Papua Brasilnya Indonesia
Edwan Ruriansyah
Jacksen F Tiago, Pelatih Persipura (GOSport)

VIVAnews —
Pelatih Persipura Jayapura, Jacksen Ferreira Tiago mengakui Papua sebagai lumbung pemain sepakbola berbakat. Bahkan dari pengalamannya selama puluhan tahun di Indonesia, mutiara Papua tidak ada duanya.

Kendati demikian, minimnya fasilitas dan pembinaan membuat talenta-talenta Papua itu tidak bisa terangkat ke permukaan. “Papua itu ibarat Brasilnya Indonesia. Orang-orangnya punya bakat olahraga, khususnya sepakbola yang sangat luar biasa.




Sayangnya, mereka memiliki keterbatasan baik fasilitas maupun pembinaan, sehingga sulit untuk mengembangkan talenta tersebut," ujar Jacksen.

Selain memiliki bakat yang luar biasa, orang Papua juga dikaruniai postur tubuh yang tergolong ideal bagi seorang pesepakbola. Pemain Papua pun memiliki fisik yang tangguh.

“Orang Papua itu sangat komplet. Mereka berbakat, punya postur ideal dan fisik yang kuat. Mereka tinggal dipoles dengan pembinaan yang baik," lanjut Jacksen.

Jacksen mengatakan, jika didukung pembinaan yang baik, kualitas para pemain Papua bukan hanya di level nasional tapi internasional. “Seandainya ada pembinaan yang berjenjang dan berkesinambungan, orang Papua bukan hanya bisa berbicara di tingkat nasional. Prestasi mereka bisa mendunia."

Namun ironisnya, sambung pelatih asal Brasil itu, selama setahun lebih dirinya melatih di Papua, belum pernah melihat atau mendengar ada SSB (sekolah sepakbola). “SSB itu merupakan salah satu wadah untuk mencetak pemain yang berkualitas sejak usia dini. Tapi di Papua, saya belum pernah melihat ada SSB," ungkapnya.

Jacksen membandingkan kondisi Papua dengan Surabaya yang sangat banyak SSB. Jadi, meski para pemain di Surabaya kurang berbakat, tapi bisa dicetak menjadi pemain profesional.

“Coba di sini (Papua) ada SSB, pasti sejak dini sudah bisa dilakukan pembinaan," lanjut Jacksen.

Menurut Jacksen, hal utama yang perlu dipoles dari pemain-pemain Papua adalah mental serta pola makan yang sehat. “Kalau ingin mencetak pemain hebat, pola makan juga menjadi faktor yang krusial karena menyangkut gizi," tutupnya.
sumber

RONALDO (BRAZIL)

Ronaldo Luís Nazário de Lima (Brazilian Portuguese pronunciation: [ʁoˈnawdu luˈiz naˈzaɾju dʒɪ ˈlimɐ]; born 22 September 1976), more commonly known as Ronaldo, is a Brazilian professional footballer currently playing for Campeonato Brasileiro club Corinthians.

He is considered by many football fans, players and managers to be the greatest striker in the history of football, especially noted for the now legendary 96/97 season with FC Barcelona, considered by many to be the greatest display ever by a footballer in a season. His clinical finishing, ability to beat defenders with ease, skills on the ball and many comebacks from injury have seen him lauded by football fans worldwide. He is an idol to many modern footballers such as Karim Benzema[2], Kaká[3] and Zlatan Ibrahimović[4]. Ronaldo was also one of the first major football superstars to popularize Futsal and Street Football skills on the pitch, becoming associated with the stepover. He is also credited with igniting a stronger marketing interest in football worldwide, particularly due to his rapport with Nike who had previously focused mainly on Basketball.

Along with French legend Zinedine Zidane, Ronaldo is one of only two people to have won the FIFA World Player of the Year award thrice, in 1996, 1997 and 2002.

Club career

Accomplishments

In 1993, Ronaldo began his professional football career playing for Cruzeiro which was already going on to become a successful club. In his first and only year with Cruzeiro, he amassed 12 goals in 14 appearances and lead them to their first Copa do Brasil championship. After Cruzeiro, he signed with Dutch football team PSV in 1994. In 1996, his final year with PSV, Ronaldo helped them win the Dutch Cup. Ronaldo has also played for FC Barcelona, Internazionale, Real Madrid and Milan. He is one of only four players to have played for 5 of the so called G-14 Clubs.[5]

Ronaldo is also an established national footballer for Brazil. He has appeared in 97 international matches, amassing 62 goals and standing 15 goals away from the Brazilian national scoring record. He was a part of the Brazilian squad that won the 1994, and 2002 World Cups. During the 2006 World Cup, Ronaldo became the highest goalscorer in the history of the World Cup with his fifteenth goal, surpassing Gerd Müller's previous record of 14.

Nicknamed O Fenômeno ("The Phenomenon" in English), Ronaldo was also one of the most prolific scorers in the nineties and in the early twenty-first century. During his football career in Europe, Ronaldo became one of the most renowned strikers in the world by winning his first Ballon d'Or as the European Footballer of the Year in 1997 and again in 2002. He is also one of only two men to have won the FIFA Player of the Year award three times, along with French footballer Zinédine Zidane. In 2007, he was named as one of the best starting eleven of all-time by France Football and was named to the FIFA 100, a list of the greatest footballers compiled by fellow countryman Pelé.

After he was scouted by famous Dutch scout Piet de Visser, he was soon transferred for US$6 million to PSV, where he scored 42 goals in 46 league games and reached a total of 54 goals in 57 official appearances. With PSV, Ronaldo won the Dutch Cup in 1996 and was Eredivisie top scorer in 1995.

Barcelona

Later, he attracted the attention of FC Barcelona. He played for Barça in the 1996-97 season, scoring 47 goals in 49 games (in all competitions) on the way to leading the Catalan side to UEFA Cup Winners' Cup triumph (where he capped the season with the winning goal in the cup final itself) and to Copa del Rey and Supercopa de España wins. He also won La Liga top scorer award in 1997 with 34 goals in 37 games. Until the 08/09 season, Ronaldo remained the last player to score more than 30 goals in La Liga. At Barcelona he scored his most memorable goal and what many consider one of the greatest goals of all time against Compostela, where Ronaldo picked up the ball and ran more than half the field, beating six players, with one player trying to stop him by pulling him down by his shirt. It was this goal that saw Ronaldo described as "unstoppable".

Internazionale

Inter signed him the following year for a then world record fee, and Ronaldo duly helped them repeat his former side's cup-winning run, this time in the UEFA Cup, in which he scored their third goal in the final itself.

On November 21, 1999, during a Serie A match against Lecce, Ronaldo felt his knee buckle and was forced to limp off the pitch. Medical exams after the match confirmed that the striker had ruptured a tendon in his knee and would require surgery.[6] During his first comeback on April 12, 2000, he played only seven minutes during the first leg of the Coppa Italia final against Lazio before injuring his knee for a second time.[7] After two operations and months of rehabilitation, Ronaldo came back for the 2002 World Cup, helping Brazil win their fifth World Cup title. Later in 2002 he won the World Player of the Year award for the third time, and transferred from Inter to Real Madrid. Ronaldo was given his most recognizable nickname O Fenômeno by the Italian press while playing there. He was named the 20th top footballer of all time for Inter according to Times Online and only his injuries prevented a higher ranking. He played 99 games and scored 59 goals for nerazzurri.

Real Madrid

Ronaldo playing for Real Madrid

His jersey sales broke all records on the first day, such was the obsession and hype surrounding him. He was sidelined through injury until October 2002 but the fans kept on chanting his name. Ronaldo scored twice in his debut for Real Madrid. He received a standing ovation in the Santiago Bernabeu. That same reception was observed on the night of the final game of the season against Athletic Bilbao, where Ronaldo scored again to seal his first season with 23 league goals and the La Liga Championship title for 2003, which Ronaldo had previously failed to win while with Barcelona. With Real he also won a Intercontinental Cup in 2002 and Spanish Super Cup in 2003. Real was on track to win the treble until Ronaldo was injured towards the end of the 03/04 season, and they lost the Copa del Rey final, knocked out of the Champions league quarterfinals, and suffered a league form breakdown. This season he finished as the league's top scorer and was awarded the Pichichi despite Real losing the league title to Valencia. Real Madrid were knocked out of the first round of the last 16 in the Champions League by Arsenal, and went a third straight season without a trophy. With the acquisition of Ruud Van Nistelrooy in 2006, Ronaldo grew more and more out of favor with the manager Fabio Capello due to injuries and weight issues.

Milan

On 18 January 2007, it was reported that Ronaldo agreed terms with Milan for a transfer of about €7.5 million.[8] Ronaldo was forced to pay for the remaining period on his contract which tied him to Real Madrid, only because the latter did not agree to release him, while Milan were not ready to pay such a sum. On Thursday, January 25 Ronaldo flew from Madrid to Milan to watch Milan in a cup tie against Roma. Statements on the club's website said that Ronaldo was in Milan for a medical, and that a meeting had been arranged for Monday with Real Madrid officials to discuss and finalize his transfer to Milan. On 26 January, Ronaldo successfully completed his medical tests at the Milanello training complex under the supervision of club doctors, and the transfer completed on January 30[9] and got the jersey number 99. He made his debut as a substitute for Milan on 11 February 2007, during the 2-1 victory over Livorno. The next game at Siena on 17 February 2007, Ronaldo scored twice and assisted on a third goal in his first start for Milan as they won an exciting game 4-3. In his first season at Milan, Ronaldo scored 7 goals in 14 appearances.[6]

After his move to Milan, Ronaldo joined the list of the few players to have played for both Internazionale and Milan in the Milan Derby and is the only player to have scored for both sides in the derby game (for Inter in the 98/99 season and for Milan in the 06/07 season). Ronaldo is also one of the few players to have started for Real Madrid and Barcelona, which also boasts a heated rivalry. However, Ronaldo has never transferred directly between the teams in the derby. Ronaldo only played 300-plus minutes for Milan in his single season at Milan due to recurring injury problems and weight issues. Ronaldo's only goals in the 2007/2008 season, besides his goal against Lecce in pre-season, came in a 5-2 victory against Napoli at the San Siro, where he scored an emotional brace. It was also the first time Milan's much hyped attacking trio of Kaká, Alexandre Pato and Ronaldo, known as Ka-Pa-Ro played together. In total he scored 9 goals in 20 appearances for Milan.

Despite tremendous success over the past decade, Ronaldo has never won the UEFA Champions League in his club career. During the 2006-07 season, though Milan won the 2006-07 title, Ronaldo was cup-tied with Madrid and ineligible to take part. The closest that he has been was in 2003 when he helped Real Madrid to the semi-finals, in which they lost to Juventus.

On 13 February 2008, Ronaldo suffered a severe season-ending knee injury while jumping for a cross in Milan's 1-1 draw with Livorno, and was stretchered off and taken to a hospital. Milan confirmed after the match that Ronaldo had ruptured the kneecap ligament in his left knee. It marked the third such occurrence of this injury, which he suffered twice to his right knee in 1998 and 2000.[10] He was released by Milan at the end of the season, as his contract expired and was not renewed.

Corinthians

Ronaldo trained with Flamengo during his recovery from knee surgery, and the club's board of directors said that the doors were open for him to join. However, on 9 December, Ronaldo signed a one-year deal with Flamengo's league rival Corinthians.[11] The announcement received high publicity in the Brazilian press about his favouring Corinthians over Flamengo, since Ronaldo publicly declared himself a Flamengo lover and had promised to defend the club.[12]

Ronaldo played his first match for Corinthians on 4 March 2009, a Copa do Brasil match against Itumbiara at Estádio Juscelino Kubitschek, in which he came as a substitute for Jorge Henrique.[13] Ronaldo scored his first goal for Corinthians on March 8, 2009, in a Campeonato Paulista match against Palmeiras.[14] He helped Corinthians win the Campeonato Paulista with 10 goals in 14 games.[15]

Ronaldo capped off his outstanding return to football by helping Corinthians defeat Internacional, with an aggregate score of 4-2, to conquer Corinthians' third Brazil Cup (the second of his career), thus earning a spot in the Copa Libertadores 2010. Ronaldo is set to extend his one-year contract in order to play in the Copa Libertadores for the first time in his illustrious career. After sugery on his fractured hand, Ronaldo returned on September 20 in a match against Goias. On 27 September 2009, he scored for Corinthians in the 1-1 draw against São Paulo.

International career

Ronaldo made his international debut for Brazil in 1994, in a friendly match in Recife against Argentina. He went to the 1994 FIFA World Cup in the USA as a 17-year-old but did not play. He came to be known as Ronaldinho ("little Ronaldo" in Portuguese), because Ronaldo Rodrigues de Jesus, his older team-mate on the tournament, was also called Ronaldo and also nicknamed Ronaldão ("big Ronaldo") to further distinguish them. Another Brazilian player, Ronaldo de Assis Moreira, who is widely known as Ronaldinho, would come to be called Ronaldinho Gaúcho when he joined the Brazilian main national team in 1999.

In the 1996 Olympic Games in Atlanta, Ronaldo played with the name Ronaldinho on his shirt, since centre back Ronaldo Guiaro, two years his senior, was one of his teammates. Brazil went on to win the bronze medal in Atlanta.

Voted the FIFA World Player of the Year in 1996 and 1997, he scored four goals and made three assists[16] during the 1998 FIFA World Cup. The night before the final, he suffered a convulsive fit. At first Ronaldo was removed from the starting lineup 72 minutes before the match, but he requested to play and was later reinstated by coach Mario Zagallo. Ronaldo did not perform well and he was injured in a collision with French goalkeeper Fabien Barthez. Brazil lost the final to hosts France 3-0.[17] Adrian Williams, professor of clinical neurology at Birmingham University, said that Ronaldo should not have played, saying that he would have been feeling the after effects of the seizure and that "there is no way that he would have been able to perform to the best of his ability within 24 hours of his first fit — if it was his first fit."[18]

During the 2002 FIFA World Cup Ronaldo again led the national team to their record fifth championship and won the Golden Shoe as top scorer with eight goals and was runner-up to the Golden Ball as most valuable player in the tournament. He also scored against every opponent in the tournament except in the quarter-finals against England. In the final match against Germany, Ronaldo scored his 11th and 12th goals to a round of applause and tied Pelé's Brazilian record of 12 career World Cup goals.[19]

On 2 June 2004, Ronaldo scored an unusual hat-trick of penalties for Brazil against archrivals Argentina in a CONMEBOL qualifier for the 2006 World Cup.

In the 2006 FIFA World Cup, although Brazil won their first two group games against Croatia and Australia, respectively, Ronaldo was repeatedly jeered for being overweight and slow. (Brazil President Lula questioned the national coach asking if, "Ronaldo is fat or isn't he?"). Nonetheless, coach Carlos Alberto Parreira kept him in the starting lineup in face of calls to have Ronaldo replaced. With his two goals against Japan in the 2006 FIFA World Cup, he became the 20th player ever to score in three different FIFA World Cups. (Ronaldo scored at France 98, Korea/Japan 2002 and at Germany 2006). On June 27 2006, he broke the all-time World Cup Finals scoring record of 14, held by Gerd Müller after scoring his 15th World Cup goal against Ghana in the 2006 FIFA World Cup Round of 16. He also equaled a much less talked about mark: with his third goal of the 2006 World Cup, Ronaldo became only the second player ever (Jürgen Klinsmann being the other) to score at least three goals in each of three World Cups. However, Brazil were knocked out by France 1-0 in the quarter-finals.

The fallout after Brazil's performance in the World Cup saw them appoint former captain Dunga as manager. His attempt to end the star culture of the Brazilian national team saw him drop Ronaldo not only from the starting line-up but from the squad altogether. He hasn't been selected since. He is fifteen goals away from becoming Brazil's all-time top-scorer.

Ronaldo has played down speculation of a national team return since his move to Corinthians, insisting that recovering from his injury was the most important thing. However, he has not hidden his desire to play at the 2010 World Cup in South Africa.

Personal life

Ronaldo during a meeting at the Brazilian Ministry of Education.

During 1997, Ronaldo met the Brazilian model and actress Susana Werner on the set of Brazilian telenovela Malhação when they acted together in three chapters.[20][21] Although never getting married, they began a long-term relationship and lived together in Milan until the beginning of 1999.[22] In April 1999, Ronaldo married female Brazilian footballer Milene Domingues after he saw her playing on television and proposed to her. The marriage lasted four years. The couple had a son, Ronald (born in Milan, on 6 April 2000). In 2005, Ronaldo got engaged to Brazilian model and MTV VJ Daniela Cicarelli, who became pregnant but suffered a miscarriage; the relationship lasted for three months after their luxurious "wedding" in Château de Chantilly which reportedly cost €700,000 (£896,000).[23] Ronaldo had also a relationship with Brazilian supermodel Raica Oliveira, ended in December 2006.

In April 2008, Ronaldo was caught in a scandal involving three transvestite prostitutes he met in a nightclub located on the city of Presidente Prudente.[24] Upon finding out that they were men, Ronaldo offered them $600 to leave.[25] However, one of the three, André Luís Ribeiro Albertino (better known as Andréia Albertini), demanded $30,000 and exposed the case to the media.[26] According to the local police chief, "[Ronaldo] was very excited and wanted to go out and have fun, without the press knowing. Ronaldo said he is not good in the head and that he is going through psychological problems because of his recent surgery. But he committed no crime at all, it was immoral at best."[27] Ronaldo's engagement to Maria Beatriz Antony was cancelled immediately after the prostitution scandal[28] but resumed a little later. Antony gave birth to their first daughter, named Maria Sophia, in Rio de Janeiro, on 24 December 2008. In April 2009, the whole family moved to a new penthouse in São Paulo.[29]

Since 2005, Ronaldo has been the co-owner of A1 Team Brazil, alongside Brazilian motorsports legend Emerson Fittipaldi.[30]

sumber

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda